Tampilkan postingan dengan label Berita Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2013

Digugat Rp7 Miliar, McDonald's Hapus Menu Halal

VIVAnews - Dua restoran McDonald's yang menjual menu berlabel halal di Amerika Serikat menghapus menu tersebut. Ini dilakukan menyusul adanya gugatan hukum senilai US$700 ribu yang menuduh menu halal yang disajikan McDonald's diragukan dan dicurigai mengandung bahan yang bertentangan dengan hukum Islam.
Diberitakan USAToday, Senin 25 Juni 2013, pernyataan resmi perusahaan itu menyatakan langkah itu diambil dua restoran McDonald's yang berlokasi di Dearborn, daerah suburban di Detroit yang merupakan daerah muslim terbesar di kota tersebut. Hanya di dua restoran tersebut McDonald's menyajikan menu halal di Amerika Serikat.

Menu halal seperti McChicken Sandwich dan Chicken McNuggets dihapus dengan alasan perusahaan akan fokus menyediakan menu inti restoran. Tidak ada satupun pernyataan resmi perusahaan yang menyatakan menu tersebut dihapus karena adanya tuntutan hukum.

Gugatan hukum itu didaftarkan oleh konsumen bernama Ahmed pada 2011 lalu. Kassem Dakhlallah, pengacara Ahmed, menyatakan, dua restoran tesebut telah menjual makanan tak halal di banyak kesempatan kepada konsumen Muslim. Namun, pemilik waralaba McDonald's di dua restoran tersebut menolak tuduhan itu.

"Kami memiliki sistem yang dirancang dengan hati-hati untuk melayani konsumen secara halal, seperti produk ayam halal yang diberi label, disimpan, dan dimasak di area yang halal. Perusahaan juga telah melatih karyawan untuk mempersiapkan makanan halal secara ketat," kata kuasa hukum McDonald's, Thomas McNeill.

Saat ini, penyelidikan dan penyelesaian kasus antara Ahmed, klinik kesehatan Muslim, komunitas Muslim Detroit dan pengacara Ahmed sedang berlangsung. Pengacara menyatakan jika ternyata tuntutan pihaknya terbukti benar maka itu adalah peristiwa yang langka. (kd)

Sukses Pimpin Perusahaan, Pria Ini Dapat Uang Pensiun Rp1,57 Triliun

VIVAnews - Komisaris dan CEO McKesson, John Hammergren, akan mendapatkan uang pensiun sebesar US$159 juta atau setara dengan Rp1,57 triliun. Hal ini membuat Hammergren menciptakan rekor baru di Amerika Serikat, pria dengan pesangon pensiun terbesar.

Dikutip dari Businessinsider, Rabu 26 Juni 2013, McKesson merupakan perusahaan obat. Pada pekan lalu, perusahaan menyatakan Hammergren berhak mendapatkan uang pensiun US$159 juta.

Beberapa konsultan keuangan menyatakan uang pensiun tersebut sangat besar dibandingkan kompensasi pensiun para eksekutif perusahaan publik. GMI Ratings menghitung rata-rata uang pensiun perusahaan yang masuk dalam indeks S&P500 hanya sekitar US&7 juta atau Rp69 miliar.

McKesson, perusahaan yang berbasis di San Fransisco ini menjelaskan, hak uang pensiun Hammergren dibentuk dalam perjanjian kerja 14 tahun yang dikombinasikan dengan kinerja perusahaan yang luar biasa selama dpimpin oleh Hammergren.

Mckesson pada 2012 lalu berhasil membukukan penjualan hingga US$122 miliar, dengan laba operasi US$2,3 miliar dan laba bersih US$1,3 miliar. termasuk dalam Fortune Global 500 dan saat ini berada di peringkat 14 perusahaan terbesar di AS. McKesson saat ini mempekerjakan 43.500 karyawan per Maret 2013. (eh)

Rabu, 19 Juni 2013

Tips Menyiasati Belanja Bulanan Pasca Kenaikan BBM

VIVAlife - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Tak sedikit yang beranggapan harga-harga kebutuhan pokok akan naik usai BBM naik. Alhasil, pengeluaran setiap bulan harus diperketat.

Menanggapi hal ini, perencana keuangan Safir Senduk menuturkan, pada dasarnya harga barang-barang setiap tahun pasti naik. Terlepas dari pengaruh kenaikan harga BBM.

"Masalahnya adalah kenapa BBM dikaitkan karena BBM berkaitan dengan kerja pemerintah. Banyak orang nggak setuju karena masyarakat belum percaya sama kinerja pemerintah," ucap Safir saat dihubungi VIVAlife.

Lebih lanjut, Safir menjelaskan, pengeluaran sebenarnya terdiri dari tiga jenis, yakni wajib, butuh, dan ingin. Wajib, ujarnya, adalah pengeluaran yang jika tidak dibayarkan ada denda atau konsekuensinya.

"Misalnya membayar cicilan rumah dan sekolah anak," katanya.

Sementara itu, butuh adalah pengeluaran yang tidak ada denda. Sebagai contoh, pulsa untuk telepon genggam dan bensin untuk kendaraan.

"Kalau pengeluaran ingin, sebenarnya nggak beli juga nggak apa-apa. Misalnya baju bagus," ucap Safir.

Menurut Safir, pengeluaran wajib dan butuh ada batasnya. Namun, pengeluaraan ingin tidak ada batasnya. Adapun, masalah BBM sebenarnya masuk ke pengeluaran butuh.

"Bisa diperkirakan. Kalau tidak punya kendaraan, mereka naik kendaraan umum yang ongkosnya perlahan naik," ujarnya.

Nah, agar pengeluaran tetap terkontrol, berikut tips dari Safir Senduk mengani cara menyiasati belanja bulanan pasca kenaikan BBM nanti.

1. Tinjau keinginan setiap bulan.
Anda sebenarnya bisa mengurangi sejumlah keinginan untuk membeli barang. Misalnya, mengurangi pembelian baju dari biasanya empat menjadi tiga. Kemudian, mengurangi makan di luar rumah.

"Biasa makan di luar seminggu tiga kali bisa dikurangi menjadi seminggu dua kali. Mulai biasakan bawa bekal dari rumah. Lebih murah dan sehat," kata Safir.

2. Pertimbangkan untuk menggunakan jasa tebeng.
Menurut Safir, dengan menggunakan jasa tebengan maka pengeluaran akan lebih kecil. Alasannya, uang yang dikeluarkan untuk membeli bensin berasal dari patungan.

3. Tekan pengeluaran.
Menekan pengeluaran bisa dilakukan dengan menekan pengeluaran untuk makan utama. Misalnya mengganti makanan hewani dengan nabati. Atau mengganti daging dengan ayam dan telur.

"Cari yang sama enaknya, tapi lebih murah," ucapnya.

4. Pertimbangkan mencari penghasilan tambahan.


Ini bermanfaat untuk jangka panjang. Menurut Safir, penghasilan tambahan tak selalu harus dengan mengeluarkan uang untuk modal usaha. sebagai contoh, menulis artikel di media.

"Itu bisa menghasilkan uang. Banyak kok pekerjaan yang tidak perlu mengeluarkan modal terlebih dahulu," kata Safir. (adi)

Tahun Ini Bukan Waktu yang Tepat Buat Investasi Emas

Tahun Ini Bukan Waktu yang Tepat Buat Investasi Emas
Ilustrasi (protothema.gr)
Liputan6.com, New York : Setelah 12 tahun harga emas melambung, tahun ini merupakan waktu yang sulit bagi semua investor yang berinvestasi di emas. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, harga emas terus merosot 18,4% hingga akhir Mei 2013.

Seperti dilansir dari goldseek.com, Senin (10/6/2013), penurunan harga emas pada 8 April-19 April 2013 terjadi saat harga emas anjlok mendekati US$ 1.525 per ounce, lalu turun lagi US$ 200 atau sekitar 11,5% akibat banyaknya transaksi penjualan emas.

Penguatan Bursa Efek Toronto dengan TSX Composite yang naik 3,8% sejauh ini dan pulihnya pasar saham Amerika Serikat (AS) dengan S&P yang menguat 17,5%, telah menghantam harga emas.

Katalisator yang menyebabkan jatuhnya harga emas sebesar US$ 200 pada April lalu yaitu penjualan 400 ton emas dalam bentuk saham yang dilakukan melalui Merrill Lynch di divisi COMEX New York Merchantile Exchange. Harga emas di pasaran sebesar US$ 1.525 tersebut memicu pengurangan kerugian dan mengundang lebih banyak pedagang. Hingga saat ini, penjual emas 400 ton tersebut masih belum diketahui.

Merosotnya harga emas telah memukul mundur para investornya dan meninggalkan para penggemar emas yang yakin emas akan naik. Kenyataannya harga emas akan sulit naik karena banyaknya tekanan pasar. Seperti dikatakan sebelumnya, penjual emas 400 ton dalam bentuk kertas April lalu masih belum diketahui.

Beberapa teori menyimpulkan ini merupakan manipulasi Bank Sentral AS (The Fed) untuk memperbanyak para pemain yang berkeinginan menurunkan harga emas, agar emas fisik dapat dibeli murah di pasaran. Jika harga emas merosot lagi secara mengejutkan menyusul benturan kepentingan pihak-pihak terkait, pastinya hal itu bukanlah gelombang pembelian emas fisik yang patut ditiru. Namun hal tersebut sudah sering terjadi.

Tanggapan positif untuk emas semakin menurun. Dengan kondisi seperti ini, proyeksi harga emas ke depan bisa jadi semakin buruk.
Hampir seluruh analis di dunia memprediksi harga emas akan terus anjlok hingga US$ 1.200 per ounce, atau bahkan US$ 1.100 per ounce.

Dengan banyaknya pihak yang meragukan kenaikan harga emas, penjualan emas justru semakin ramai di pasaran. Namun, jika pasar terus mengalami kerugian, hal ini bisa memicu kemorosotan harga emas terus menerus.

Sejauh ini, tahun 2013 bukan tahun yang baik untuk emas. Bagaimanapun juga, masih ada sekitar enam bulan tersisa menuju akhir tahun. Alasan-alasan dan kondisi yang mendorong emas naik ke harga US$ 1.900 pada 2011 mungkin bisa terulang lagi. Meski begitu, kondisi-kondisi pasar saham saat ini terlihat begitu labil dan tak baik untuk berinvestasi. (Ndw)
Mau Dapat PASSIVE INCOME Klik Disini